Dikirimkan pada

Pendidikan Islam dari Sudut Filsafat Pendidikan Progresivisme dan Essensialisme

Pendidikan Islam dari Sudut Filsafat Pendidikan  Progresivisme dan Essensialisme

Dalam proses pertumbuhannya¸filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsafat atau para filosof sepanjang kurun waktu dengan objek permasalahan hidup di dunia¸telah melahirkan berbagai macam pandangan. Pandangan-pandangan para filosof itu¸ada kalanya satu dengan yang lainnya hanya bersifat saling kuat menguatkan ¸tetapi tidak jarang pula yang berbeda atau berlawanan. Hal ini antara lain di sebabkan terutama oleh pendekatan yang dipakai oleh mereka berbeda¸walaupun untuk objek permasalahannya sama. Karena perbedaan dalam sistem pendekatan itu¸maka kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan menjadi berbeda pula¸bahkan tidak sedikit  yang berlawanan. Selain itu faktor zaman dan pandangan hidup yang melatar belakangi mereka¸serta tempat dimana mereka bermukim juga ikut mewarnai pemikiran mereka. Dalam perjalanan sejarahnya aliran filsafat telah melahirkan berbagai pandangan yang cendrung menimbulkan keraguan, hal ini di sebabkan karna masing-masing aliran berusaha mempertahankan pendapatnya sebagai suatu kebenaran. Dari perbedaan pandangan tersebut menimbulkan berbagai macam aliran, di antaranya : progresivisme, essensialisme, perenialisme, rekunstruksionalisme, eksistensialisme dan lain sebagainya.

Menyimak kembali sejerah prtumbuhan dan perkembangan aliran-aliran filsafat akan menjadi jelas adanya perbedaan. begitu juga halnya dengan filsafat pendidikan¸bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan bebagai pandangan atau aliran. Karna pemikiran filsafat tidak pernah mandeg¸maka keputusan atau kesimpulan yang diperolehpun tidak pernah merupakan kesimpulan final. Oleh sebab itu¸dunia pecaturan filsafat termasuk didalamnya filsafat pendidikan seringkali hanya berkisar pada permasalahan yang itu-itu juga¸ baik sebagai suatu bentuk persetujuan ataupun penolakan terhadap kesimpulan yang ada. Mohammad Noorsyam melukiskan keadaan dunia pemikiran filsafat itu sebagai berikut : “ bagaimanapun wujud reaksi , aksi, cita-cita, kreasi bahkan pemahaman manusia atas segala sesuatu termasuk kepribadian ideal mereka, tersimpul dalam poko-pokok ajaran suatu filsafat. Dari aliran-aliran yang ada dalam filsafat pendidikan, tidak mutlak memberi kebebasan pada setiap orang untuk menganut atau menolak suatu aliran. Sikap demikian justru menjadi pra kondisi bagi perkembangan aliran-aliran filsafat, sikap ini dikenal dalam filsafat dengan istilah electic atau eclecticism.[1]

Sebagai hasil dari pemikiran para filosuf, filsafat telah melahirkan berbagai macam pandangan dan aliran yang berbeda-beda. Pandangan-pandangan filosuf itu ada kalanya saling menguatkan dan ada juga yang saling berlawanan. Hal ini antara lain disebabkan oleh pendekatan yang mereka pakai juga berbeda-beda walaupun untuk objek dan masalah yang sama. Karena perbedaan dalam pendekatan itu, maka kesimpulan yang didapat juga akan berbeda.

Perbedaan pandangan filsafat tersebut juga terjadi dalam pemikiran filsafat pendidikan, sehingga muncul aliran-aliran filsafat pendidikan.

Untuk mengenal dan memahami aliran-aliran serta perkembangan pemikiran dunia filsafat pendidikan,¸disini penulis hanya memfokuskan kepada dua aliran filsafat pendidikan yaitu :

  1. Aliran Progresivisme
  2. Aliran Essensialisme

 

  1. 1.      ALIRAN PROGRESIVISME

      Progresivisme berasal dari kata “ progress” yang berarti kemajuan. Secara harfiah dapat di artikan sebagi aliran yang meninginkan kemajuan secara cepat.[2] Progressivisme adalah suatu aliran yang menekankan, bahwa pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan pengetahuan kepada peserta didik tetapi hendaklah berisi aktivitas-aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berpikir mereka sedemikian rupa sehingga mereka dapat berpikir secara sistematis melalui cara-cara ilmiah seperti memberikan analisis. Pertimbangan dan pembuatan kesimpulan menuju pemilihan alternative yang paling memungkinkan untuk pemecahan masalah yang di hadapi. Progressivisme di sebut juga instrumentalisme, karna aliran ini beranggapan bahwa intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk mengembangkan kepribadian manusia. Aliran progressivime memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi : ilmu hayat, bahwa manusia di tuntut untuk mengetahui kehidupan semua masalah.

Aliran progresivisme suatu aliran filsafat pendidikan yang sangat berpengaruh dalam abad ke 20 ini. Pengaruh itu terasa diseluruh dunia¸terlebih-lebih di amerika serikat. Usaha pembaharuan dalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran-aliran progressivisme ini. Biasanya aliran progressivisme ini di hubungkan dengan pandangan hidup liberal “The Liberal road to culture”[3] yang dimaksudkan dengan ini adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terkait oleh suatu doktrin tertentu) curious (ingin mengetahui, ingin menyelidiki) toleran dan open-minded (mempunyai hati terbuka).

Filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progress dan bertindak secara konstruktif, inovatif dan reformatif, aktif serta dinamis. Sebab sudah menjadi naluri manusia menginginkan perubahan-perubahan. Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja, akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup dimana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan dan tidak terikat oleh doktrin tertentu) namun demikian filsafat progressivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia, kekuatan yang diwarisi manusia sejak lahir ( mans natural powers) adapun maksudnya adalah manusia sejak ia lahir telah membawa bakat dan kemampuan (predisposisi) atau potensi kemampuan dasar terutama daya akalnya sehingga dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya, baik itu tantangan, hambatan, ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. Disini tersirat bahwa intelegensi merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung masalah.

Dengan demikian potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan dan hal ini menjadi perhatian progressivisme. Disini jelas bahwa aliran filsafat progressivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagi pelaku (subyek) di dalam hidupnya. Adapun filsafat progressivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil budi manusia, dan akan dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku, melainkan slalu berkembang dan berubah. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu. Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang eduktif yang pada hakikatnya akan dapat memberikan warna dan corak dari out put (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusia-manusia yang berkualitas unggul, berkompotitif, inisiatif, adapti dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat kepada pengalaman atau kurikulum eksperimental yaitu kurikulum yang berpusat kepada pengalaman, dimana apa yang telah di peroleh anak didik selama disekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan anyatanya. Dengan metode pendidikan “belajar sambil berbuat” (learning by doing) dan pemecahan masalah (problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem, dengan demikian maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progressivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.

Ada beberapa pandangan dalam aliran progresivisme ini antara lain:[4]

  1. Pandangan Antologi

Asal hereby atau asal keduniawian, adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas, sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu, pengalaman manusia tentang penderitaan, kesedihan, kegembiraan, ke indahan lain-lain adalah relita manusia hidup sampai mati. Pengalaman adalah suatu sumber evolusi, yang berarti perkembangan, maju setapak demi setapak mulai dari yang mudah-mudah menerobos kepada yang sulit-sulit (perkembangan yang lama) pengalaman adalah perjuangan, sebab hidup adalah tindakan dan perubahan-perubahan. Manusia akan tetap hidup berkembang, jika ia mampu mengatasi perjuangan, perubahan dan berani bertindak.

  1. Pandangan Epistemology

Pengetahuan adalah informasi, fakta, hukum prinsip, proses, kebiasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi dan pengalaman. Pengetahuan di peroleh manusia baik secara lansung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkungan hidupnya, ataupun pengetahuan di peroleh lansung melalui catatan-catatan. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktek, maka makin besar persiapan kita menghadapi  tuntutan masa depan. Pengetahuan harus disesuaikan dan di modifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. Kebenaran ialah kemampuan suatu ide pemecahan masalah, kebenaran adalah konsekuen daripada suatu ide, realita dan daya guna dalam hidup.

  1. Pandangan Aksiologi

Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa, dengan demikian adanya pergaulan. Masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. Bahasa adalah sarana ekpresi yang bersal dari dorongan, kehendak, perasaan, kecerdasan dari individu-individu.

Selain itu aliran progressivisme juga memiliki berbagai macam pandangan yaitu:[5]

  1. Pandangan Progresivisme Tentang Asas Belajar

Pandangan mengenai asas belajar, filsafat progressivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Kelebihan anak memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis, anak didik mempunyai bekal untuk mengahdapi dan memcahkan problema-problemanya.

Seiring dengan pandangan di atas, bahwa filsafat progressivisme mengakui anak didik memliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan mengakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insane yang aktif, kreatif dan dinamis menghadapi lingkungannya. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melakukan proses pendidikan tentulah berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Usaha-usaha yang dilakuakan adalah bagaimana kondisi yang eduktif, memberikan motivasi-motivasi dan stimuli-stimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. Tegasnya, akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik, perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nilai-nilai, sehingga anak menjadi terampil dan berintelektual baik secara fisik maupunpsikis. Dalam hal ini hal yang harus diperhatikan guru adalah “anak didik bukan manusia yang kecil” yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. Guru harus memahami tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Sehingga guru dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu di ajarkan. Disamping itu, anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai denan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progressive, disini prinsip kebebasan prilaku dimana anak sebagai subyek pendidikan, sedangkan guru sebagai pelayanan siswa.

Dari uraian di atas dapatlah di ambil suatu kongklusi asas progressivisme dalam beelajar bertitik tulak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil, tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang, setiap anak didik berbeda kemampuannya, individu atau anak didik adalah insane yang aktif dan kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya.

  1. Pandangan Progresivisme Tentang Kurikulum

Selain kemajuan atau progres, lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progressivisme. Untuk itu filsafat progressivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikululum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara eduktif baik dilingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.

Adapun sikap progressivisme memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas, dinamika dan sifat-sifat yang sejenis tercernin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang eduktif, bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Dapat kita analisis dari penjelasan di atas bahwa filsafat progresivisme menghendaki sekolah yang memiliki kurikulum dimana bersifat fleksibilitas (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu) luas dan terbuka. Dengan berpijak dari prinsip ini, maka kurikulum dapat direvisi dan di evaluasi setiap saat sesuai kebutuhan setempat.untuk memnuhi kebutuhan tersebut, maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes fleksibel dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa di ubah dan di bentuk sesuai zamannya. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak, oramg tua dan masyarakat.  Maka kurikulum yang eduktif  dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat di revisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe core curriculum. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman  atau kurikulum eksperimental di dasarkan atas manusia dalam hidupnya slalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingungan demi kelestarian hidupnya. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja, akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Oleh karna itu manusia harus belajar dari pengalaman.

  1. Pandangan Progresivisme Tentang Budaya

Kebudayaan sebagai hasil budi manusia, dalam berbagai bentuk dan manifestasinya dikenal sepanjang sejarah sebagi milik manusia yang tidak kaku, melainkan selalu berkembang dan berubah. Filsafat progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan cultural dan tantangan zaman, sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antar zaman tradisional untuk memasuki zaman modern. Manusia sebagai makhluk berbudaya dan berakal slalu berupaya untuk melakukan perubahan-perubahan. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju. Kenyataan menunjukkan bahwa pada zaman purbakala manusia hidup di pohon-pohon atau gua-gua. Hidupnya hanya bergantung dengan alam. Alam lah yang mengendalikan manusia dengan sifatnya yang tidak idle curioussity (rasa keingintahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa, cipta dan karsanya telah dapat  mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna. Alam lah yang dikendalikan oleh manusia. Hidup manusia tidak lagi di pohon-pohon atau gua-gua akan tetapi dengan potensi akalnya manusia telah membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi, rumah mewah dan apartement-apartement. Dengan ransangan dari lingkunganya terutama lewat pendidikan potensi-potensi manusia akan berkembang, maka potensi-potensi untuk berpikir, berkreasi, berbudaya, berbudi dan sebagainya dapat dikembangkan. Filsafat progresivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya, telah mempengaruhi pendidikan, dimana pembaruan-pembaruan pendidikan telah dapat menpengaruhi manusia untuk maju. Sehingga semakin tinggi tingkat piker manusia maka semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi dewasa, masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang komplek dan maju.

 

Pandangan Filsafat Pendidikan Islam Terhadap Progresivisme

  1. Filsafat progresivisme mempunyai konsep  bahwa manusia atau peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan di bandingkan dengan makhluk lainya. Kelebihan manusia memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis, peserta didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problematika. Kualitas perennial, tetapi di tentukan oleh sejauh mana suatu pendidikan itu mampu utuk terus menerus merekonstruksikan berbagai pengalaman.

Seiring pandangan di atas filsafat pendidikan islam mengakui bahwa peserta didik memang memiliki potensi akal yang dapat dikembangkan dan mengakui pula individu atau peserta didik pada dasarnya adalah insane yang aktif, kreatif dan dinamis. Namun pendidikan Islam tidak hanya mengakui bahwa anak (peserta didik) mempunyai banyak potensi yang menurut hasan langgulung potensi manusia itu sebanyak sifat-sifat tuhan seperti yang terkandung dalam masmaul husna. Dan di antara sekian banyak potensi tersebut yang sangat perlu dikembangkan adalah potensi beragama

  1. Menurut progresivisme pendidikan tidak lain adalah proses perkembangan, sehingga seorang pendidik mesti selalu siap untuk senangtiasa memodifikasi berbagai metode dan strategi dalam pengupayaan ilmu-ilmu pengetahuan terbaru dan berbagi perubahan yang menjadi kecendrungan dalam suatu masyarakat. Sikap progresivisme memandang segala sesuatu berasaskan fleksibelitas, dinamika dan sifat-sifat yang sejenis, yang tercermin dalam pandangan mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Yang bersifat luwes dan dapat direvisi dan evaluasi setiap saat sesuai dengan kebutuhan.

Filsafat pendiddikan islam mengakui hal yang sama sebagaimana yang di inginkan filsafat progresivisme, yaitu bahwa masyarakat itu bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan ilmu, oleh sebab itu kita harus terbuka dalam menghadapi permasalahan serta mau menerima kritikan demi kesempurnaan. Untuk mendapatkan suatu perubahan manusia harus memiliki pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat dengan dogma tertentu) eurious (ingin mengetahui dan menyelidiki), toleran dan open mind (punya hati, terbuka). Akan tetapi dalam aliran progrevisme nilai-nilai yang dijadikan ukuran bukan nilai yang absolute seperti nilai kewahyuan syarat dalam pendidikan islam, melainkan nilai yang relative, yaitu nilai-nilai baik dan buruk dikaitkan dengan pertimbangan kultur masyarakat yang sudah barang tentu kebenaran bergantung pada tempat dan waktu, dan tentu nilai tersebut bersifat relative, sedangkan dalam pendididkan islam nilai tersebut bersifat mutlak.

Prinsip-Prinsip Progresivisme[6]

  1. Progresivisme berakar pada pragmatisme, yang orientasinya anthropocentris (berpusat kepada manusia)
  2. Sasaran pendidikan ialah meningkatkan kecerdasan praktis (kompetensi) dalam rangka efektivitas pemecahan masalah yang disajikan melalui pengalaman.
  3. Nilai bersifat relative, terutama nilai duniawi, menjelajah aktif evolusioner dan konsekwensi prilaku.
  4. Manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan tepat menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam keberadaan manusia.
  5. Progresivisme di anggap sebagai the liberal road of culture (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilaiyang di anut bersifat fleksibel terhadap perubahan, toleran dan terbuka. Dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap seperti penjelajah,peneliti guna mengenbangkan pengalaman. Mereka harus memiliki sikap terbuka dan berkemauan baik sambil mendengar kritik-kritik dan ide-ide lawan sambil member kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argument tersebut.
  6. Filsafat progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuaatan alamiah manusia, kekuatan yang diwarisi manusi sejak lahir (man’s natural powers). Maksudnya manusia sejak lahir telah membawa bakat dan kemampuan atau potensi dasar terutama daya akalnya, dengan daya akalnya manusia akan dapat mengatasi segala problematika hidupnya baik itu tantangan , hambatan, ancaman maupun gangguan yang timbul dari lingkungan hidupnya. Potensi-potensi yang dimiliki manusia mempunyai kekuatan-kekuatan yang harus dikembangkan hal ini menjadi perhatian progresivisme yang menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku di dalam hidupnya.

Implementasi Progresivisme dalam pendidikan

  1. Progresivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul pada zaman dahulu maupun sekarang. Pendidikan yang otoriter dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan yang baik, karena kurang menghargai dan memberikan tempat semestinya kepada kemampuan peserta didik dalam proses pendidikan.
  2. Progresivisme sangat menghargai kemampuan berpikir yang dapat menumbuhkan kemajuan berpikir menjadi inti perhatian progresivisme karena ia merupakan bagian utama dari kebudayaan.
  3. Progresivisme tidak mengakui kemutlakankehidupan menolak absolotisme dan otoritarisme dalam segala bentuknya. Nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan pendidikan progresivisme menolak pendidikan yang bercorak teacher centric.
  4. Progresivisme yang meletakan dasar pada penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi. Dengan demikian filsafat progresivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi nilai demokrasi. Oleh karna itu progresivisme berorientasi kepada nilai-nilai demokratis dan selalu mengembangkan alur pendidikan.

 

Sifat-Sifat Aliran Progresivisme

Sifat-sifat umum aliran progresivisme dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok:[7]

  1. Sifat-sifat negative
  2. Sifat-sifat positif.

Sifat itu dikatan negative dalam arti bahwa, progressivisme menolak ototarisme dan absolutisme dalam segala bentuk, seperti halnya yang tedapat dalam agama, politik, etika dan epistimologi. Positif dalam arti, bahwa progressivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi oleh manusia dari alam sejak ia lahir. “mans powers” terutama yang dimaksud adalah kekuatan-kekuatan manusia untuk terus-menerus melawan dan mengatasi kekuatan-kekuatan, takhayul-takhayul dan kegawatan-kegawatan yang timbul dari lingkungan hidup yang selamanya mengancam.

Istilah filsafat yang biasanya di pakai untuk menggambarkan pandangan hidup yang demikian disebut  pragmatisme. Dalam lapangan pendidikan lebih lazim di pakai istilah-istilah “instrumentalisme” dan “experimentalisme” dalam arti terbatas pragmatisme adalah suatu teori pikir. Progressivisme yakin bahwa manusia mempunyai kesanggupan untuk mengendalikan hubungannya dengan alam, sanggup meresapi rahasia-rahasia alam, sanggup menguasai alam. Akan tetapi di samping keyakinan-keyakinan ini ada juga kesangsian. d apatkah manusia menggunakan kcakapannya dalam ilmu pengetahuan alam, juga dalam ilmu pengetahuan social. Dalam hubungannya dengan sesama manusia pragmatisme dan progressivisme yakin bahwa manusia mempunyai kesanggupan itu, akan tetapi apakah manusia dapat belajar bagaimana menggunakan kesanggupan itu dalam hal ini disini timbul sedikit kesangsian. Tetapi meskipun demikian progressivisme tetap bersifat, tetap ppercaya bahwa manusia dapat menguasai seluruh lingkunganya, lingkungan alam dan lingkungan social. Maka tugas pendidikan menurut pragmatisme ialah meneliti sejelas-jelasnya kesanggupan-kesanggupan manusia itu dan menguji kesangguupan-kesanggupan itu dalam pekerjaan praktis. Yang dimaksud disini adalah bahwa manusia hendaknya mempekerjakan ide-ide atau pikiran-pikirannya.

Perkembangan Aliran Progresivisme

            Meskipun pragmatisme-progressivisme sebagai aliran pikiran baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad 19 akan tetapi garis perkembangannya dapat ditarik jauh kebelakang sampai pada zaman yunani purba. Misalnya Heraclitus (544-484) Socrates (469-399) Protagoras (480-410) dan Aristoteles mengemukan pendapat yang dapat di anggap sebagai  mengemukan pendapat yang dapat di anggap sebagai unsure-unsur yang ikut menyebabkan terjadinya sikap jiwa yang di sebut pragmatism-progressivisme. Hecratus mengemukakan bahwa sifat yang terutama dari realita adalah perubahan. Tidak ada suatu yang tetap di dunia ini, semuanya berubah-rubah kecuali asas perubahan itu sendiri. Socrates berusaha mempersatukan epistemologi dengan axiology. Ia mengajakan bahwa pengetahuan adalah kunci untuk kebajikan (perbuatan yang baik) ia percaya bahwa manusia sanggup melakukan yang baik. Protagoras mengajarkan bahwa kebenaaran dan norma atau nilai (value) tidak bersifat mutlak, melainkan relative yaiu tergantung waktu dan tempat. Aristoteles menyarankan moderasi dan kompromi (jalan tengah bukan jalan exstrim) dalam kehidupan.[8]

Dalam asas modern sejak abad ke 16 francis bacon, jhon locke, rousseau, kant dan hegel dapat di sebut sebagai penyumbang-penyumbang pikiran dalam proses terjadinya aliran pragmatism-progressivisme. Fracis bacon memberikan sumbangan dengan usahanya untuk memperbaiki dan memperluas metode experimental (metode ilmiah dan pengetahuan alam). Locke dengan ajarannya kebebasan politik. Rousseau dengan keyakinannya bahwa kebaikan berada di dalam manusia melulu karena kodrat yang baik dari para manusia. Menurut Rousseau manusia lahir sebagai makhluk yang baik. Kant memuliakan manusia, menjunjung tinggi akan kepribadian manusia, member martabat manusia suatu kedudukan yang tinggi. Hegel mengajarkan bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, selamanya berada dalam keadaan gerak, dalam proses perubahan dan penyesuaian yang tak ada hentinya.

Adapun tokoh-tokoh progresivisme antara lain:[9]

  1. William james

Lahir di new York, 11 januari 1842 dan meninggal di Choruroa, Hemshire tanggal 26 agustus 1910. Beliau adalah seorang psychologist dan seorang filosuf amerika yang sangat terkenal. Paham dan ajarannya demikian pula kepribadianya sangat berpengaruh di berbagai Negara eropa dan amerika. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum amerika sebagai penulis yang sangat brilian, dosen serta penceramah di bidang filsafat, juga terkenal sebagai pendiri pragmatisme.

  1. Jhon Dewey

Lahir di Burlington, Vermont, pada tanggal 20 oktober 1859 dan meninggal di new York tanggal 1 januari 1952. Beliau juga termasuk salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatism. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil, tapi meskipun demikian, namanya sering pula dihubungkan terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut instrumentalisme. Adapun ide filsafatnya yang utama berkisar dalam hubungan dan problema pendidikan yang kongkrit, baik teori maupun praktek. Dan reputasi internasianalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan progresivisme amerika. Deway tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesinal, akan tetapi juga karena perkembangan ide nya yang fundamental dalam bidang ekonomi, hokum, antropologi, teori politik dan ilmu jiwa. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan yang demokratis.

  1. Hans Vaihinger

Menurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin di buktikan.satu-satunya ukuran dalam berpikir adalah gunanya.untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia, segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata jika pengertian itu berguna untuk menguasai dunia. Bolehlah di anggap benar asal orang tau saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.

  1. Ferdinand Schiller dan Georges Santayana

Kedua orang ini bisa digolongkan pada penganut pragmatisme ini. Tapi sangat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka, karena amat banyak pengaruh yang bertentangan dengan apa yang di alaminya.

  1. 2.      ALIRAN ESSENSIALISME

      Essensialime adalah pendidkan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Essensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan cirri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak kepada pendidikan yang penuh dengan fleksibilitas, dimana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.[10]

Nilai-nilai yang dapat memenuhinya adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang. Dengan perhitungan zaman renaissance, sebagai pangkal timbulnya pandanga-pandangan essensialisme awal. Sedangkan puncak reflek dari gagasan ini adalah pada pertengahan kedua abad ke-19. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak essensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung essensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Dengan demikian renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya  konsep-konsep piker yang disebut essensialisme, karena itu timbul pada zaman itu. Essensialisme adalah konsep meletakkan sebagian cirri alam piker modrn. Essensialisme pertama-pertama muncul dan merupakan reaksi terhadap symbolism mutlak dan dogmatis abad pertengahan, maka disusunlah konsep yang sistimatis dan menyeluruh mengenai manusi dan alam smesta, yang memenuhi tuntunan zaman.

Pandangan Ontology Essensialisme

        Sifat yang menonjol dari ontologi essensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur isinya dengan tiada cela pula. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan di akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakakan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi essensialisme semacam miniature dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan keagungan. Maka dalam sejarah perkembanganya, kurikulum essensialisme menerapkan berbagai pola idealism, realisme, dan sebagainya.

Pandangan Epistimologi Essensialisme

       Teori kepribadian manusia sebagai refleksi tuhan adalah jalan untuk mengerti epistimologi essensialisme. Sebab jika manusia mampu menyadari realita sebagai mikrokosmos dan makrokosmos maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiananya. Berdasarkan kualitas inilah dia memproduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda, ilmu alam, biologi, social dan agama.

Pandangan Aksiologi Essensialisme

       Pandangan ontology dan epistimologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Bagi aliran ini nilai-nilai berasal tergantung pada pandangan idealism dan realism sebab essensialisme terbina oleh kedua syarat tersebut.

Pandangan Essensialisme  mengenai Belajar

Idealisme sebagai filsafat hidup memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku, menurut idealism bila seseorang itu belajar pada tahap permulaan adalah memahami akunya sendiri terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.

Pandangan essensialisme mengenai Kurikulum

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat, bersumber atas pandangan ini kegiatan-kegiatan pendidikan dilakukan.

Beberapa tokoh utama  yang berperan dalam penyebaran essensialisme, yaitu:[11]

  • Desiderius Erasmus, humanis belanda yang hidup pada akhir abad 15 dan permulaan abad 16, yang merupakan tokoh utama yang menolak pandangan hidup yang berpijak pada dunia lain. Erasmus berusaha agar kurikulum sekolah bersifat humanities dan bersifat internasional, sehingga bisa mencakup lapisan dan kaum aristocrat.
  • Johann Amos Comenius yang hidup diseputar tahun 1592 -1670, adalah seorang ya ng memiliki pandangan realis dan dokmatis. Comenius berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan  membentuk anak sesuai dengan kehendak tuhan, pada hakikatnya duia adalah dinamis dan bertujuan.
  • John Locke,tokoh dari inggris yang pada tahun 1632-1704 sebagai pemikir dunia berpendapat bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi. Locke mempunyai sekolah kerja untuk anak-anak miskin.
  • Johann Henrich Pestalozzi, sebagai seorang tokoh yang berpandangan naturalistis ya ng hidup pada tahun 1746-1827. Pestalozzi mempu yai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu ia mempunyai keyakinan bahwa manusia juga mempunyai hubungan transcendental langsung dengam tuhan.
  • Johann Friederich Frobel (1782-1852) sebagai tokoh yang berpandangan kosmis-sintetis dengan keyakinannya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang merupakan bagian dari alam ini, sehingga  manusia tunduk dna mengikuti ketentuan-ketetuan hukum alam. Terhadap pendidikan Frobel memandang anak sebagai makhluk yang berekspresi kreatif, yang dalam tingkahlakunya akan Nampak adanya kualitas mentafisis. Karena tugas pendidikan adalah memimpin anak didik kearah kesadaran diri yan g murni, selaras dengan fitrah kejadiannya.
  • Johann Friederich Herbert yang hidup pada tahun 1776-1841, sebagai salah seorang murid dari Emmanuel kant yang berpendangan kritis, herbert berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan yang mutlak dalam arti  penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan dan inilah yang disebut proses pencapaian tujuan pendidikan oleh Herbert sebagai pengajaran yang mendidik.
  • William T. Harris, tokoh dari amerika serikat hidup pada tahun 1835-1909. Harris yang pandangannya dipengaruhi oleh hegel berusaha menrapkan idealisme obyektif pada pendidikan umum. Tugas pendidikan baginya adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan spiritual.

Dalam mempertahankan pahamnya itu, khususny dari persaingan dengan paham prokresivisme,tokoh-tokoh essensialisme mendirikan suatu organisasi yang bernama ‘Essentialist Committee for the Advancement of education’ pada tahun 1930. Melalui organisasi inilah pandangan-pandangan essensialisme dikembngkan dalam dunia pendidikan. Sebagaimana telah disinggung diatas bahwa essensialisme mempunyai pandangan yang dipengaruhi oleh paham idealisme dan realism, maka konsep-konsepnya tentang pendidikan sedikit banyaknya diwarnai oleh konsep-konsep idealisme dan realism.

Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia didunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi essensialisme merupakan semacam miniature dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaaan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapakan berbagai pola kurikulum, seperti pola idialisme, realism dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggaraka pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan social yang ada dimasyarakat.[12]

 


[1] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h.20

[2] Ramayulis. Syamsul  Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009) h.40

[3] Jalaludin. Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h.73

[4] Opcit, h.71

[5] Opcit, h.75

[6] Ramayulis. Syamsul  Nizar, Opcit. h.41

[7] Zuhairini. Dkk, Opcit. h.21

[8] Opcit, h.22

[9] Jalaludin. Abdullah Idi, Opcit, h.70

[10] Opcit, h.81

[11] Zuhairini. Dkk, Opcit, h.25

[12] Opcit, h. 27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s